Selamat datang di "Zona Ukhuwah Kita" UKMF KM Al Fatih FE UNY. SPIRIT PERBAIKAN! RAIH KEMENANGAN!

Kamis, 06 Juni 2013

Jalin Ukhuwah Islami, Forstilling FEB Universitas Brawijaya berkunjung di KM Al- Fatih

UKMF Keluarga Muslim Al Fatih Fakultas Ekonomi UNY menerima kunjungan istimewa dari Forstilling (Forum Studi Islam dan Lingkungan) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya pada hari Senin (3/6) kemarin. Acara kunjungan berlangsung kurang lebih empat jam mulai pukul 15.00 WIB, bertempat di Auditorium FE UNY.
Rombongan dari Forstilling yang berjumlah 55 orang tersebut sebelumnya juga berkunjung di FEB UGM. Hal tersebut dalam rangka sharing ilmu dan pengalaman sesama keluarga muslim di Fakultas Ekonomi.

Minggu, 02 Juni 2013

Salman Al Farisy



Pada edisi kali ini, kita akan menceritakan tentang kisah perjalanan hidup Salman  Al-Farisi dalam menuntut ilmu. Salman al-Farisi pada awal hidupnya adalah seorang bangsawan dari Persia yang menganut agama Majusi.
Pada suatu hari, ketika sedang berjalan-jalan di areal perkebunan milik ayahnya, tanpa sengaja ia melihat orang-orang nasrani sedang beribadah di gereja, dan ia pun akhirnya tertarik pada agama tersebut.
Ketika pulang, Salman menceritakan kejadian yang baru saja dialaminya. Ayahnya terkejut dan berkata: "Anakku, tidak ada kebaikan dalam agama itu. Agamamu dan agama nenek moyangmu lebih baik."
Salman dan Ayahnya pun bertengkar, dan akhirnya Salman kabur dari rumah. Ia bergabung dengan rombongan kafilah yang hendak menuju Suriah. Ketika tiba di Suriah, dia meminta dikenalkan dengan seorang pendeta di gereja. Dia berkata: "Saya ingin menjadi seorang Nasrani dan memberikan diri saya untuk melayani, belajar dari Anda, dan beribadah dengan Anda." Sang pendeta menyetujui. Namun tak lama kemudian, Salman menemukan kenyataan bahwa sang pendeta adalah seorang yang korup. Dia memerintahkan para jemaah untuk bersedekah, namun ternyata hasil sedekah itu ditimbun untuk memperkaya diri sendiri. Ketika pendeta itu meninggal dunia dan umat Nasrani berkumpul untuk menguburkannya, Salman pun mengatakan kebenarannya.
Setelah itu, Salman pergi untuk mencari orang saleh lainnya, di Mosul, Nisibis, dan tempat lainnya. Pendeta yang terakhir berkata kepadanya bahwa telah datang seorang nabi di tanah Arab, yang memiliki kejujuran, yang tidak memakan sedekah untuk dirinya sendiri. Salman pun pergi ke Arab mengikuti para pedagang dari Bani Kalb. Namun, ketika mereka tiba di Wadi al-Qura (tempat antara Suriah dan Madinah), para pedagang itu mengingkari janji dan menjadikan Salman seorang seorang budak, lalu menjual dia kepada seorang Yahudi.
Singkat cerita, akhirnya Salman dapat sampai ke Yatsrib (Madinah) dan bertemu dengan rombongan yang baru hijrah dari Makkah. Salman dibebaskan dengan tebusan 300 pohon kurma yang harus ia tanam dan 40 uqiyah yang dikumpulkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Selanjutnya ia mendapat bimbingan langsung dari Rasulullah SAW. Betapa gembira hatinya, kenyataan yang diterimanya jauh melebihi apa yang dicita-citakannya, dari sekadar ingin bertemu dan berguru menjadi anugerah pengakuan sebagai muslimin di tengah-tengah kaum Muhajirin dan kaum Anshar yang disatukan sebagai saudara.
Sahabat fillah... pelajaran yang bisa diambil adalah bahwa jalan mencapai ilmu tidak bisa ditempuh melainkan dengan senantiasa dekat dengan orang yang berilmu dan mencari ilmu butuh proses, pengorbanan, dan kesabaran. Ada pepatah yang mengatakan, “Jika engkau butuh besi yang tajam maka pesanlah langsung dari tukang pandai besi.” Maka dari itu, bergurulah segala sesuatunya dengan yang tahu ilmunya. (Denugh/Adit)